Rabu, 20 Mei 2020

Artikel Pendidikan 2




Pengembangan Kurikulum Ekonomi Pancasila:
“Teori dan Implementasinya di Pendidikan Menengah”[1]

Rino[2]

Universitas Negeri Padang

Abstract: Pengajaran ilmu ekonomi di Indonesia baik di sekolah menengah terlebih perguruan tinggi sangat didominasi oleh pemikiran-pemikiran ekonomi klasik dan neoklasik, buku-buku teks ekonomi di sekolah lanjutan hanyalah derivasi ajaran ekonomi neoklasik di perguruan tinggi yang “disederhanakan” sesuai dengan taraf berpikir siswa. Indonesia sebagai negara yang memiliki ideologi Pancasila dengan nilai-nilai yang dikandungnya merupakan sebuah warisan budaya yang telah dijadikan sebagai jati diri bangsa juga memiliki prinsip-prinsip dasar dan asumsi-asumsi pokok dalam mengatur perekonomian negara. Maka sudah seharusnya Pancasila dijadikan sebagai landasan pokok dan tolak ukur kebijakan yang dilahirkan untuk kepentingan bangsa dan negara dan yang penting adalah menanamkan Pancasila kedalam lubuk hati setiap rakyat Indonesia.

Kata Kunci: Pengembangan kurikulum Ekonomi Pancasila, Pendidikan Menengah

Ekonomi adalah salah satu kajian dalam rumpun ilmu-ilmu sosial yang cukup mendapat perhatian luas dari masyarakat, karena membicarakan ekonomi tidak akan dapat dipisahkan dari kehidupan baik secara makro maupun secara mikro. Dalam tataran mikroekonomi yang lebih menitikberatkan pada masalah-masalah ekonomi dalam ruang lingkup produksi, distribusi dan konsumsi, kebutuhan dan alat pemuas kebutuhan serta upaya untuk memaksimalkan kepuasan dalam berbagai keterbatasan, sedangkan dalam makro ekonomi lebih menitikberatkan pada persoalan-persoalan pokok dalam perekonomian secara lebih luas dalam kehidupan bernegara yaitu masalah pertumbuhan, pengangguran, inflasi dan neraca pembayaran.
Oleh karena itu sangatlah wajar dan penting sekali ekonomi diajarkan sebagai ilmu pada berbagai jenjang pendidikan di negara kita dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi yang diharapkan akan tertanam dalam diri peserta didik pemahaman dan kemampuan untuk memecahkan berbagai persoalan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup dan melaksanakanan aktifitas ekonomi itu sendiri sesuai dengan bidang kehidupan yang dijalanainya.
Membicarakan pengajaran ilmu ekonomi tidak dapat juga dilepaskan dari sistem ekonomi yang berkembang didunia hari ini serta arah dan orientasi kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh suatu negara. Dua sitem ekonomi yang cukup mendominasi dalam perekembangan dunia hari ini adalah sistem ekonomi liberal yang diusung oleh Amerika Serikat dan Eropah serta sistem ekonomi sosialis yang diusung oleh RRC dan Rusia, disamping itu beberapa negara di kawasan timur tengah memakai sistem ekonomi islam, akan tetapi dalam implementasi dan praktiknya pada berbagai negara memperlihatkan bahwa tidak ada negara yang murni melaksanakan sistem ekonomi liberal secara penuh karena didalamnya ternyata juga ditemui adanya peran negara dengan sejumlah kebijakan-kebijakan yang secara tidak langsung dapat dikatakan sebagai intervensi untuk kepentingan nasional negara bersangkutan, begitu juga dengan negara yang memakai sistem ekonomi sosialis seperti Cina dan Rusia dimana kebebasan individu dan berusaha masih terbuka, namun tidak berarti ciri masing-masingnya sebagai sistem ekonomi hilang sama sekali.
Indonesia sebagai negara dengan Pancasila sebagai dasar negara menamakan diri sebagai negara yang memakai sistem ekonomi Pancasila, intisari Pancasila menurut Bung Karno (Irawan:2008) adalah gotong royong atau kekeluargaan, sedangkan dari segi politik trisila yang diperas dari Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa (monotheisme), sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi, Profesor Mubyarto (2003) mengartikan sistem ekonomi pancasila adalah:

     sistem ekonomi yang bermoralkan pancasila sebagai ideologi bangsa yang mengacu pada Pancasila, baik secara utuh (gotong royong, kekeluargaan) dan mengacu pada setiap silanya, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa: perilaku setiap warga Negara digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan moral, sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab: ada tekad seluruh bangsa untuk mewujudkan kemerataan nasional, sila ketiga Persatuan Indonesia: Nasionalisme ekonomi, sila keempat Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan: Demokrasi Ekonomi, sila kelima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia: Desentralisasi dan Otonomi Daerah

Defenisi ini secara tegas mengatakan bahwa bahwa nilai-nilai yang ada dalam Pancasila adalah pedoman dan tolak ukur perilaku untuk menjalankan aktifitas perekonomian baik secara makro maupun secara mikro sehingga tidak boleh bertentangan dan bersebrangan dengan tatanan nilai yang sudah tertera dalam Pancasila itu sendiri.
Pemikiran tentang ekonomi Pancasila adalah sebuah produk dan karya besar dari para pendiri bangsa ini yang menggali dari nilai-nilai luhur kepribadian bangsa Indonesia yang kemudian diwujudkan dengan kesepakatan bersama untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar negara yang tidak ada tawar menawar lagi, maka sudah seharusnya juga ekonomi Pancasila ini terlihat nyata dalam praktik dan pengajaran ekonomi di negeri kita yang harus diajarkan dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi sehingga akan melahirkan manusia-manusia pancasilais yang menjalankan aktifitas perekonomian Pancasila
Pengajaran ilmu ekonomi di Indonesia baik di sekolah menengah terlebih perguruan tinggi sangat didominasi oleh pemikiran-pemikiran ekonomi klasik dan neoklasik, buku-buku teks ekonomi di sekolah lanjutan hanyalah derivasi ajaran ekonomi neoklasik di perguruan tinggi yang “disederhanakan” sesuai dengan taraf berpikir siswa. Salah satu “kelemahan” mendasar ajaran ekonomi Neoklasik adalah terlalu “bias” kepada pengusaha (besar).
Materi ekonomi yang diajarkan dalam ekonomi Neoklasik adalah materi-materi yang berpijak pada keyakinan manusia sebagai homo economicus, yang selalu mengejar self interest secara efisien. Efisiensi ekonomi dianggap hanya terwujud melalui maksimisasi profit dan minimisasi biaya. Demikian pula halnya, efisensi dipercaya hanya dapat dicapai melalui persaingan pasar (pasar bebas), sehingga ajaran yang ditonjolkan adalah persaingan (kompetitivisme), dan bukannya kerja sama atau kooperasi. Hal ini juga menampakkan kekeliruan ajaran ekonomi Neoklasik yang terlalu mengagung-agungkan “pasar”, dengan melupakan aspek kelembagaan sosial-budaya, politik, dan ideologi “gotong royong” yang dianut Indonesia.
Kita akan kesulitan mencari buku teks ekonomi yang memuat bahasan mengenai keadilan ekonomi (sosial), termasuk diantaranya bahasan kemiskinan dan ketimpangan yang dialami sedikitnya 35 juta pelaku ekonomi rakyat di Indonesia. Hal ini karena adanya anggapan bahwa keadilan bukanlah masalah dalam ilmu ekonomi, melainkan sudah masuk wilayah hukum ataupun politik. Jadi mudah dipahami apabila bahasan mengenai ekonomi rakyat “dihindari” dalam buku ajar ekonomi. Padahal lebih dari 90% pelaku usaha kita adalah ekonomi rakyat, yang berkecimpung dalam usaha berskala mikro, kecil, dan menengah
Selama ini materi-materi ajar ekonomi di sekolah lanjutan banyak “dipasok” oleh perguruan tinggi (fakultas ekonomi), sehingga ajaran ekonomi yang dipelajari relatif sama. Namun, ada perbedaan yang cukup esensial dalam aspek metodologi pengajaran di sekolah lanjutan dan Pendidikan Tinggi. Jika pengajaran ekonomi di perguruan tinggi banyak dikritik karena menekankan pada metode (analisis) deduktif saja tanpa banyak melakukan penelitian ke lapangan (induktif), maka di sekolah lanjutan sudah mulai dikembangkan penelitian lapangan sebagai alternatif metode pengajaran. Di samping itu, guru-guru sekolah lanjutan nampaknya “fleksibel” dalam mengajarkan ilmu ekonomi yang lebih riil (real-life economy) kepada siswanya
Pun dalam kehidupan yang lebih luas praktek pengaturan perekonomian negara kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah sangat kentara dengan nuansa ilmu ekonomi klasik dan neoklasik yang nota bene adalah model ekonomi kapital liberal, lahirnya kebijakan-kebijakan ini sangat dipengaruhi oleh para ilmuan dan ahli ekonomi yang menduduki posisi strategis bidang perekonomian yang banyak menamatkan studinya di negara-negara yang melahirkan sistem ini terutama Amerika, menurut Mubyarto pada masa era orde banyak teknokrat-teknokrat dari Universitas Indonesia yang diangkat menjadi menteri terutama pada beberapa pos strategis dibidang perekonomian sehingga melahirkan julukan baru bagi Fakultas Ekonomi UI ini sebagai Fakultas yang mengajarkan paham liberal.
Nasution (2008) juga menyatakan bahwa saat ini ilmu ekonomi yang diajarkan di Kampus maupun sekolah merupakan ilmu ekonomi yang dikembangkan dari praktik ekonomi barat, tepatnya ilmu ekonomi neoklasik, baik moneterist maupun keynesian dan pengajaran ekonomi ini menjadi doktrin sehingga dalam praktiknya ekonomi pasar yang dilandasi oleh faham neoklasik menjadi lebih dominan dalam aktifitas ekonomi di Indonesia, baik dalam tataran pelaku usaha, konsumen maupun pengambil kebijakan.
Pengajaran ekonomi klasik dan neoklasik khususnya di Indonesia tidaklah dapat disalahkan karena disatu sisi sebagai negara berkembang yang ingin melakukan akselerasi dalam pembangunan harus melakukan berbagai terobosan dan mengadospi berbagai kemajuan dari perkembangan dunia yang ada. Akan tetapi semangat untuk mengikuti kemajuan dan perkembangan dengan mengadospinya secara mentah-mentah tanpa adanya proses seleksi dan kesepkatan secara nasional yang mempertimbangkan berbagai aspek adalah sesuatu tindakan yag sangat keliru. Sistem ekonomi liberal kapitalis yang lahir dan berkembang di negara asalnya merupakan wujud yang sesuai dengan karaktersistik bangsa Amerika sekaligus merupakan jelmaan dari negara Amarika yang menganut ideologi liberalisme, kebijakan-kebijakan ekonomi yang ditempuh Amerika juga merupakan wujud nyata dari idelogi liberalisme yang sangat sesuai dengan bangsa Amerika.
Indonesia sebagai negara yang memiliki ideologi Pancasila dengan nilai-nilai yang dikandungnya merupakan sebuah warisan budaya yang telah dijadikan sebagai jati diri bangsa juga memiliki prinsip-prinsip dasar dan asumsi-asumsi pokok dalam mengatur perekonomian negara. Maka sudah seharusnya Pancasila dijadikan sebagai landasan pokok dan tolak ukur kebijakan yang dilahirkan untuk kepentingan bangsa dan negara dan yang penting adalah menanamkan Pancasila kedalam lubuk hati setiap rakyat Indonesia.
Pengajaran ekonomi yang ada sekarang ternyata sangat menjauh dari nilai-nilai yang ada dalam Pancasila dan terjadi pergeseran yang lebih memilih pengajaran ekonomi klasik dan neoklasik sebagai yang utama dalam pengajarannya. Sri Edi Swasono memaparkan sembilan kekeliuran pengajaran ekonomi di Indonesia khsusnya di perguruan tinggi yaitu (1) Pengajaran ilmu ekonomi saat ini belum mampu melepaskan diri dari pemikiran neoklasikal (2) Pengajaran ilmu ekonomi menyandar­kan diri pada paham kompetitivisme dengan kuat­nya (3) Pengajaran ekonomi di kampus-kam­pus sejak semula telah kita awali dengan paham market fundamentalism (4) Telah diakui adanya apa yang dise­but micro-macro ills (atau micro-macro rifts) (5) Pengajaran ilmu ekonomi kurang memberikan perhatian cukup tentang sistem eko­nomi komparatif di luar ortodoksi kapitalisme vs sosialisme (6) Pengajaran ilmu ekonomi sejak awal telah diberikan kepada mahasiswa tanpa mem­bedakan antara prinsip-prinsip ekonomi dan hu­kum-hukum ekonomi (7) Pe­lajaran ilmu ekonomi di sekolah-sekolah me­nengah kita, yang tidak saja sepenuhnya menjiplak keke­liruan yang terjadi di kampus-kampus (8) Pengajaran ilmu ekonomi banyak mengabai­kan metode induktif dan lebih menekankan pada metode deduktif (9) di ruang-ruang kelas globalisasi ekonomi banyak diungkapkan sebagai suatu cita-cita untuk mencapai efisiensi ekonomi dunia
Kekeliruan besar ini sudah saatnya kita sadari khususnya para pengajar ekonomi pada berbagai jenjang pendidikan di Indonesia karena kesalahan fatal yang dilakukan ini akan berdampak luas terhadap masa depan bangsa kita pada masa depan karena generasi hari ini adalah aset penting yang akan melajutkan tonggak estafet perjuangan bangsa, maka dipandang perlu untuk menyusun dan merekonstruksikan kurikulum ekonomi Pancasila yang akan diajarkan pada berbagai jenjang pendidikan di negara kita mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, dalam hal ini penulis mencoba menawarkan pengembangan kurikulum pendidikan ekonomi Pancasila pada level pendidikan menengah.
Tulisan ini berupaya menggali sejauh mungkin urgensinya ekonomi pancasila dijadikan sebagai mata pelajaran dalam kurikulum di pendidikan menengah, serta bagaimana melakukan pengembangan kurikulum ekonomi Pancasila khususnya pada jenjang pendidikan menengah.
Tinjauan Konseptual Ekonomi Pancasila
Istilah ekonomi Pancasila atau Sistem Ekonomi Pancasila barangkali hanya dikenal di negara kita saja Indonesia dan tidak akan ditemui di negara lain karena Pancasila sebagai dasar negara hanya ada di Indonesia, namun dalam sistem ekonomi yang banyak di anut oleh negara-negara di dunia tidak mengenal istilah Sistem Ekonomi Pancasila sebagai salah satu dari sistem ekonomi yang ada, hanya ada sistem ekonomi liberal, sosialis, islam.
Walapun tidak dalam kelompok sistem ekonomi yang dikenal secara luas, sistem ekonomi Pancasila tetap eksis dan dapat diterima secara luas oleh bangsa Indonesia karena nilai-nilai yang ada dalam system ekonomi Pancasila adalah praktik-praktik perekonomian yang telah dilakukanb dan menjadi bahagian penting dari aktifitas ekonomi bangsa Indonesia yang telah berjalan sejak dulu dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut Profesor Mubyarto (Raharjo:2004) dari impresi penelitiannya yang amat luas menegaskan bahwa praktek Ekonomi Pancasila (Pancasila in action) dengan mudah dapat dijumpai dan dikenal dimana-mana di seluruh Indonesia seperti Usaha Kecil dan Menengah (UKM), julo-julo, simpan pinjam, gotong royong, pasar tradisional, bahkan ada diantara aktifitas perekonomian itu yang telah berorientasi ekspor seperti kerajinan tangan dan kulit yang telah merambah pasar luar negeri, oleh karena itu semakin jelas bahwa ekonomi Pancasila adalah jiwa dan karakter bangsa Indonesia yang menjadi kepribadian bangsa Indonesia dengan nilai-nilai luhur sebagai karaktersitiknya. Memahami ekonomi Pancasila tidaklah sulit karena pada hakekatnya dikembalikan pada sila-sila yang lima yang ada dalam Pancasila itu sendiri
Mubyarto (2003) mengeksplanasikan tentang ekonomi pancasila sebagai berikut; Pertama Sistem Ekonomi Pancasila adalah “aturan main” kehidupan ekonomi atau hubungan-hubungan ekonomi antar pelaku-pelaku ekonomi yang didasarkan pada etika atau moral Pancasila dengan tujuan akhir mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Etika Pancasila adalah landasan moral dan kemanusiaan yang dijiwai semangat nasionalisme (kebangsaan) dan kerakyatan, yang kesemuanya bermuara pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Kedua Intisari Pancasila (Eka Sila) menurut Bung Karno adalah gotongroyong atau kekeluargaan, sedangkan dari segi politik Trisila yang diperas dari Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa (monotheisme), sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi. Ketiga Sistem Ekonomi Pancasila berisi aturan main kehidupan ekonomi yang mengacu pada ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Dalam Sistem Ekonomi Pancasila, pemerintah dan masyarakat memihak pada (kepentingan) ekonomi rakyat sehingga terwujud kemerataan sosial dalam kemakmuran dan kesejahteraan. Inilah sistem ekonomi kerakyatan yang demokratis yang melibatkan semua orang dalam proses produksi dan hasilnya juga dinikmati oleh semua warga masyarakat.
Keempat Sistem ekonomi pancasila merupakan sistem ekonomi yang bermoralkan pancasila sebagai ideologi bangsa yang mengacu pada Pancasila, baik secara utuh (gotong royong, kekeluargaan) dan mengacu pada setiap silanya, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa: perilaku setiap warga Negara digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan moral, sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab: ada tekad seluruh bangsa untuk mewujudkan kemerataan nasional, sila ketiga Persatuan Indonesia: Nasionalisme ekonomi, sila keempat Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan: Demokrasi Ekonomi, sila kelima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia: Desentralisasi dan Otonomi Daerah

Tinjauan Akademik Ekonomi Pancasila
Banyak perdebatan dan pertentangan yang terjadi semenjak digulirkannya gagasan ekonomi Pancasila, perdebatan yang terjadi seputar keragu-raguan ekonomi Pancasila dalam kontek keilmuannya. Pendekatan ekonomi Pancasila sebagai sebuah displin ilmu menuntut tiga tahapan pembahasan, pertama ontologis yaitu keberadaan dan hakekatnya, kedua epistemologis yaitu bagaimana memahami ekonomi Pancasila dan bagaimana cara kerjanya, ketiga aksiologis yaitu mempertahankan hasil atau kondisi ideal yang dihasilkan oleh proses pembentukan ekonomi Pancasila (Raharjo, 2004), tiga landasan keilmuan ini kiranya masih menjadi topik hangat dalam berbagai diskusi ilmiah karena ekonomi Pancasila secara keilmuan belum mengukuhkan diri dengan sejumlah persyaratan-persyaratan ideal yang dibutuhkan seperti teori-teori yang mendukungnya, sejarahnya, prakteknya untuk dilaksanakan.
Akan tetapi keraguan ini dijawab sendiri oleh Raharjo bahwa gagasan ekonomi pancasila adalah sesuatu yang sah dan logis karena ekonomi Pancasila merupakan kombinasi declaration of independence dan manifesto komunis yang pada intinya adalah kombinasi tiga ideologi nasionalisme, sosialisme dan demokrasi. Keraguan terhadap Ekonomi Pancasila sebagai sebuah ilmu telah muncul semenjak digulirkannya gagasan tentang ekonomi Pancasila dalam berbagai diskusi dan seminar yang dikemukakan oleh Mubyarto tahun 1982, banyak ekonom saat itu menilai bahwa yang ada di dunia hanya teori ekonomi kapitalis bahwa sosialis pun dianggap tidak ada dan apalagi ekonomi Pancasila karena sudut pandang mereka saat itu hanya melihat secara kasat mata dan perkembangan teori ekonomi pada saat itu.
Apabila perdebatan tentang ekonomi Pancasila sebagai ilmu yang bisa diterima tetap dilanjutkan akan sangat menyita waktu dan energi karena memahami ekonomi Pancasila tidak sesulit kita melahirkan sebuah ilmu, memahami ekonomi Pancasila adalah mengembalikan ilmu ekonomi sebagai ilmu sosial yang berketuhanan, beretika, dan bermoral, serta punya ciri lokalitas, maka adalah tugas dan tanggungjawab kita bersama terutama para ilmuan di negeri ini untuk menggali dan memperkenalkan ekonomi pancasila sebagai sistem ekonomi alternatif dunia di tengah keterpurukan sistem liberalisme kapitalisme, alangkah lebih mulia jika perdebatan kita adalah bagaimana melahirkan ide ini sebagai sebuah pekerjaan besar para ilmuan dari pada hanya mempedebatkan dari sisi lain yang akan semakin melemahkan semangat, kalau kita telusuri sejarah kelahiran system ekonomi baik liberal maupun sosialis juga tidak terlepas dari perdebatan sengit akan tetapi keinginan untuk menggali dan menghadrikan sebuah solusi melahirkan sebuah kajsian lengkap dan sempurna dari sisi keilmuan tentang sistem liberal dan sosialis yang ada sekarang ini, maka tentunya ekonomi pancasila pun dapat dilakukan hal yang sama sehingga menjadi lebih dapat diterima dengan kajian keilmuan dan penelitian yang mendalam yang dilakukan oleh para ahli di Indonesia
Tinjauan Historis Ekonomi Pancasila
Secara historis ekonomi pancasila sudah menjadi bahagian tersendiri dalam aktifitas perekonomian bangsa Indonesia yang telah turun temurun, praktek-praktek perekonomian rakyat yang berjalan selama ini seperti kerajinan kecil dan rumah tangga, simpan pinjam dan saling tenggang, koperasi, pasar tradisional, dan sejumlah aktifitas perekonomian lainnya yang banyak dijumpai di daerah pedesaan merupakan bukti fisik yang mengindikasikan eksistensi ekonomi kerakyatan.
Sehingga istilah ekonomi Pancasila sering disebut juga dengan ekonomi kerakyatan yaitu ekonomi berbasis rakyat dari oleh dan untuk rakyat, Mubyarto (2002) menjelaskan bahwa Sistem Ekonomi Kerakyatan adalah Sistem Ekonomi Nasional Indonesia yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, dan menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada ekonomi rakyat.
Sebuah analisis menarik yang dikemukakan oleh Boeke tahun 1930 tentang adanya ekonomi dualistic yang merupakan disertasi yang dibuatnya pada tahun 1910 yang mencermati keberadaan ekonomi di Indonesia dalam pandangannya Boeke mengatakan bahwa di Indonesia terdapat dua sistem ekonomi yang berjalan secara terpisah, di satu sisi system ekonomi kapitalis berjalan sendiri yang dipraktikkan oleh Belanda sementara disisi lain system ekonomi tradisional juga berjalan sendiri, artinya dalam sebuah negara memumgkinkan akan berjalannya dua buah system ekonomi yang dipraktekkan secara berbeda dan sangat berlawanan tadi dan pada akhirnya tetap tidak akan ada penyatuan karena sangat sulit mencari titik temu dan persamaanya seperti sulitnya menyatukan air dan minyak dalam satu bejana yang akan selalu sia-sia, perjalanan panjang bangsa kita nampaknya sesuai dengan teori dualistic yang dikemukakan oleh Boeke tadi dan pada akhirnya ekonomi yang dijalankan secara tradisional oleh rakyat Indonesia tetap menjadi pilihan yang sesuai dengan keinginan dari rakyat secara keseluruhan. 
Tinjauan Ideologis Politik Ekonomi Pancasila
Sistem ekonomi Pancasila tidak terlepas dari sisi ideologis dan kebijakan politis negara kita terutama situasi yang berkembang saat itu. Setelah perang dunia kedua usai situasi dunia memasuki babak baru dalam sebuah era kompetisi dan persaingan yang tidak sehat terutama antara dua negara yang mencap dirinya sebagai negara besar dan memiliki pengaruh luas dan besar di dunia, Uni Soviet dan Amerika Serikat yang menjadi sekutu dalam perang dunia pertama dan kedua terlibat persaingan yang sengit dalam menanamkan pengaruhnya di dunia, sering kali dua negara ini terlibat dalam pertikaian-pertiakain dalam memperebutkan daerah-daerah pengaruhnya, sehingga muncul dalam sebutan blok barat dan blok timur yang bersiteru dalam sebuah kancah perang dingin. Indonesia dan beberapa negara lainnya pada saat itu berinisiatif untuk tidak meramaikan persaingan itu dengan mendeklarasikan sebuah gerakan yang anti blok yang dikenal dengan gerakan non blok yang prinsip perjuangannya disamping untuk tidak terlibat dalam perseteruan antara dua blok juga ingin menciptakan sebuah kontelasi politik baru ditengah bipolarisasi kekuatan dunia yang berada dalam kekuatan barat dan timur.
Kiranya secara idelogis ekonomi Pancasila menjadi sebuah posisi dan nilai tawar strategis yang mencerminkan sikap, watak dan karakter bangsa Indonesia, Profesor. Mubyarto (1990;102) menyatakan bahwa ideologis pancasila menginginkan keseimbangan antara hidup sebagai peribadi dan anggota masyarakat serta antara materi dan rohani yang berarti ekonomi Pancasila memandang manusia tidak hanya dilihat dari satu segi saja akan tetapi bulat dan utuh sebagai manusia yang utuh dalam berpikir, bertingkah laku dan berbuat yang tidak hanya didasarkan pada rangsangan ekonmi saja akan tetapi juga memperhatikan rangsangan-rangsangan sosial dan moral. Dengan demikian filsafat ekonomi Pancasila sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai yang diusung oleh ekonomi liberal dan terpimpin, ekonomi liberal (free enterprise system) sangat mengangungkan kebebasan individu dalam berusaha sehingga segala penghalang yang akan menghambat kebebasan individu harus disingkirkan dan dalam rangka pemenuhan pemenuhan kebutuhan bangsa dalam bidang ekonomi pemerintah hanya bertindak sebagai polis saja yang mengawasi jalannya kegiatan dan kehidupan perekonomian dan negara hanya akan turut campur tangan secara insidentil bilaman terjadi gangguan pada proses mekanisme harga dalam mewujudkan alokasi optimum sumber-sumber ekonomi, system ekonomi terpimpin yang hanya mengakui peranan negara dalam menetukan aktifitas dan hajat hidup rakyat banyak sehingga peran negara terlihat sangat dominan, diantara dua sistem ini kehadiran ekonomi pancasila yang mengusung nilai-nilai kemanusiaan, gotong royong, kerjasama yang juga tetap memberikan tempat yang proporsional kepada penguasa mengatur dan melahirkan kebijakan-kebijakan yang juga diperuntukkan untuk kepentingan rakyat sehingga dengan demikian ekonomi pancasila hadir sebagai ekonomi pertengah atau ekonomi alternatif yang mencoba mengambil sisi-sisi positif dari kedua system yang ada dan meminimalisir segala dampak yang akan berakibat merugikan kepentingan rakyat.
Dalam pandangan lain Bung Hatta (Swasono,1988:2) lebih cenderung mengatakan ekonomi Pancasila adalah ekonomi sosialis religius dimana da tiga alasan kuat Bung Hatta dengan pandangannya ini pertama sosialisme Indonesia timbul karena suruhan agama dengan adanya etik agama yang menghendaki adanya rasa persaudaraan dan tolong menolongantara sesame manusia dalam pergaulan hidup kedua sosialisme Indonesia merupakan ekspresi dari jiwa berontak bangsa Indonesia yang memperoleh pengakuan sangat tidak adil dari penjajah ketiga para pemimpin Indonesia yang tidak dapat menerima Marxisme sebagai pandangan yang berdasarkan matrealisme dan mencari sumber-sumber sosialime dalam masyarakat sendiri
Karaktersitik Ekonomi Pancasila
Ekonomi Pancasila sebagai sebuah sistem ekonomi yang lahir di bumi Indonesia sekaligus sebagai karakterstik bangsa Indonesia adalah menjadi ciri dan karakterisitik utama dari system ekonomi ini. Aktifitas yang dijalankan oleh masyarakat di Indonesia secara konvensional yang kaya dengan nilai-nilai sosial kemanusiaan juga menjadi karaktersitik lain yang menjadikan sistem ekonomi Pancasila sangat unik dan berbeda dengan sistem liberal dan sosialis. Mubyarto (1990:53) merincikan lima ciri sistem ekonomi Pancasila yaitu  pertama roda perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial dan moral, kedua kehendak kuat dari seluruh masyarakat kearah keadaan kemerataan social (egalitarianisme) sesuai asas-asas kemanusiaan ketiga perioritas kebijakan ekonomi adalah penciptaan kebijakan ekonomi nasional yang tangguh yang berarti nasionalisme menjiwai setiap kebijakan ekonomi keempat koperasi merupakan sokoguru perekonomian dan merupakan bentuk yang paling konkrit dari usaha bersama kelima adanya imbangan yang jelas dan tegas antara perencanaan ditingkat nasional dengan desentralisasi dalam pelaksanaan kegiatan ekonomi untuk menjamin keadilan ekonomi dan sosial
Irawan (2008) menyebutkan lima ciri-ciri utama yang merupakan karakteristik yang membedakannya dengan sistem yang lain yaitu pertama yang menguasai hajat hidup orang banyak adalah negara / pemerintah, contoh hajad hidup orang banyak yakni seperti air, bahan bakar minyak / BBM, pertambangan / hasil bumi, dan lain sebagainya, kedua peran negara adalah penting namun tidak dominan, dan begitu juga dengan peranan pihak swasta yang posisinya penting namun tidak mendominasi. Sehingga tidak terjadi kondisi sistem ekonomi liberal maupun sistem ekonomi komando. Kedua pihak yakni pemerintah dan swasta hidup beriringan, berdampingan secara damai dan saling mendukung, ketiga masyarakat adalah bagian yang penting di mana kegiatan produksi dilakukan oleh semua untuk semua serta dipimpin dan diawasi oleh anggota masyarakat, keempat modal atau pun buruh tidak mendominasi perekonomian karena didasari atas asas kekeluargaan antar sesama manusia, kelima dalam sistem ekonomi Pancasila perekonomian liberal maupun komando harus dijauhkan karena terbukti hanya menyengsarakan kaum yang lemah serta mematikan kreatifitas yang potensial. Persaingan usaha pun harus selalu terus-menerus diawasi pemerintah agar tidak merugikan pihak-pihak yang berkaitan.
Ekonomi Pancasila sebagai Ekonomi Kerakyatan
Ekonomi pancasila secara sederhana disebut sebagai sebuah sistem ekonomi pasar dengan pengendalian pemerintah atau“ekonomi pasar terkendali”. Mungkin ada istilah-istilah lain yang mendekati pengertian “Ekonomi Pancasila”, yaitu “sistem ekonomi campuran”, maksudnya campuran antara sistem kapitalisme dan sosialisme” atau “sistem ekonomi jalan ketiga yang mendekati sistem ekonomi Inggris atau Negara-ngara Eropa barat yang lazim disebut dengan negara kesejahteraan(welfare state). Dalam praktiknya ekonomi Pancasila disebut juga dengan ‘Ekonomi Kerakyatan’ karena kegiatan-kegiatan ekonomi yang banyak dijumpai terutama di daerah-daerah pedesaan seperti industri kecil dan kerajinan rakyat, simpan pinjam tanpa bunga, pasar tradisional. Secara konsepsi ekonomi kerakyatan tidak menebar ancaman kepada pengusaha dan pelaku ekonomi dalam skala besar dan tidak pula mempertentangkan antara kelompok pengusaha dan pekerja atau kaum buruh, atau antara kelompok kaya dengan orang miskin namun ekonomi kerakyatan berusaha menciptakan tatanan ekonomi yang santun dan berkeadilan dan menjamin distribusi pendapatan secara merata sehingga keadilan dan kesejahteraan dapat dinikmati semua golongan masyarakat
Secara faktual ekonomi kerakyatan yang terbukti memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi krisis seharusnya memberi pelajaran kepada pemerintah dan ekonom-ekonom kita untuk lebih serius lagi menjadikan penguatan peran ekonomi rakyat sebagai agenda besar pembangunan ekonomi bangsa. Ketidakpercayaan terhadap ekonomi rakyat, yang sebenarnya adalah wujud ketidakpercayaan diri (inferiority complex), merupakan kendala bangsa kita untuk benar-benar dapat lepas dari ketergantungan ekonomi terhadap negara/lembaga luar negeri seperti IMF. Hal ini pula yang mendorong lebih dominannya kebijakan yang berorientasi pada merangsang masuknya investasi asing dengan melupakan investasi yang telah dilakukan pelaku ekonomi rakyat dalam skala kecil namun yang nilai totalnya sangat besar, berikut adalah beberapa catatan-catatan penting perjalanan ekonomi rakyat dalam masa krisis ekonomi beberapa waktu yang lalu:
1.      Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan pusat penelitian kependudukan UGM dengan RAND Coorporation Santa Monica tahun 1998 menyimpulkan bahwa krisis ekonomi tahun 1997 tidak mempengaruhi kehidupan keluarga/perorangan di Indonesia
2.      Penelitian lapangan tentang Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) Juli-Desember 2000 pada 13 propinsi dengan 10.400 KK sebagai responden menemukan: pertama kesempatan kerja tidak menurun akan tetapi naik 4,2%, kedua 75% responden mengatakan tidak ada penuruan kesejahteraan, ketiga 70% responden mengatakan hidup memadai.
3.      Pertumbuhan ekonomi tahun 1998 adalah -13,7%, pada tahun 1997 adalah 4,9%, pada tahun 2002 naik menjadi 4,8% dengan capital flight 10 Miliyar/tahun
4.      Pada masa krisis usaha-usaha besar banyak yang berjatuhan dan gulung tikar sementara yang bertahan adalah UKM dengan sumbangan sebesar 4,8%
Fakta-fakta yang diungkapkan di atas merupakan bukti yang menunjukkan pada kita betapa ekonomi kerakyatan mampu bertahan dan eksis ditengah krisis, mereka seolah-seolah tidak melihat adanya sebuah krisis besar yang terjadi, walapun ada usahanya mundur akan tetapi semangat persaudaraan dan kebersamaam mampu menutupi dan menciptakan kondisi yang seimbang dalam masyarakat. Beberapa cara yang dilakukan keluarga di daerah pedesaan sebagai kita menghadapi krisis adalah pertama mengatur kembali pengeluaran/belanja rumah tangga, kedua menitipkan sebagian anggota keluarga pada keluarga yang mampu, ketiga pinjam meminjam tanpa bunga, keempat kerja lembur dan dibantu dengan anggota keluarga yang lain, keempat menyimpan aset dalam bentuk emas dan hewan ternak yang sewaktu-weaktu dapat dijual.
Pengembangan Kurikulum Ekonomi Pancasila di Pendidikan Menengah (SMA dan MA)
Menyadari akan kelemahan dan berbagai kritikan tajam yang dikemukakan oleh beberapa ekonom yang memiliki kepedulian tinggi terhadap eksistensi ekonomi Pancasila untuk masa depan maka sangat mutlak diperlukan upaya-upaya yang cepat dan tepat dalam untuk mengembangkan ekonomi Pancasila untuk dijadikan sebagai sebuah displin ilmu dan ditanamkan melalui pendidikan pada berbagai tingkat, jenis dan jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pemahaman akan Pancasila yang kita amati selama ini hanya terbatas pada memperkenalkan Pancasila sebagai dasar negara dan dalam tingkatan pengatahuan saja. Sudah saatnya kesalahan ini diperbaiki dengan tidak hanya menjadikan Pancasila sebagai pengatahuan saja akan tetapi lebih ditingkatkan pada tingkat pemahaman, pengamalan hingga muncul kebanggan sebagai bangsa yang memiliki pancasila.
Kepentingan negara dalam menyusun sebuah kurikulum pendidikan sangat lah tinggi sehingga tidak bisa diabaikan karena menyangkut masa depan bangsa dan negara ke depan, akan tetapi perlu digarisbawai bahwa kepentingan negara hendaknya tidak dibatasi dan dihalangi oleh hanya ambisi politik dan kepentingan politik sesaat yang sifatnya hanya terbatas pada masa kekuasaan tertentu, maka membicarakan kurikulum ekonomi Pancasila adalah tidak hanya menyangkut kepentingan politik sesaat namun adalah masa depan bangsa Indonesia dan upaya untuk melestarikan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Kelly (2008:12) yang mengingatkan kita bahwa kepentingan pendidikan dalam pencapaian tujuan-tujuan politis memiliki hubungan yang sangat erat. Namun kepentingan bangsa dan negara tetaplah menjadi perioritas.
Oleh karena itu membicarakan pengembangan kurikulum Ekonomi Pancasila tidak lagi berada dalam wilayah perdebatan politik dan kepentingan sesaat akan tetapi secara luas adalah membicarakan kepentingan nasional sehingga diperlukan langkah-langkah yang jelas serta kerjasama dari berbagai elemen pemerintah dan masyarakat yang ada untuk mewujudkannya baik pemerintah, pakar pendidikan, pengelola pendidikan, siswa, guru, LSM, ekonom, media masa dan lain sebagainya. Semuanya diharapkan secara konstruktif mrnyimgangkan ide, gagasannya untuk melahirkan model pengembangan kurikulum ekonomi Pancasila.
Ada dua tawaran pokok terkait dengan pengembangan kurikulum ekonomi Pancasila pada jenjang pendidikan menengah yaitu pertama menjadikan sebagai mata pelajaran tersendiri yang dinamakan dengan mata pelajaran ekonomi Pancasila kedua memasukkan muatan ekonomi Pancasila pada kurikulum ekonomi. Agaknya pilihan kedua lebih rasional mengingat struktutur mata pelajaran pada jenjang pendidikan menengah telah begitu padat maka muatan ekonomi Pancasila secara konsep hendaknya menjadi pembahasan utama 
Langkah awal memulai pengembangan kurikulum ekonomi Pancasila
Pertanyaan yang akan muncul dengan ide kurikulum ekonomi Pancasila ini dari mana kita memulainya?, dan pada jenjang pendidikan apa kurikulum ekonomi pancasila dapat diajarkan secara menyeluruh?. untuk memulainya pada tataran praktik dan keseharian pada hakekatnya bukanlah perkara sulit karena sebagaimana yang telah diuraikan ekonomi pancasila sebagai praktik ekonomi kerakyatan telah menjadi aktifitas dan rutinitas masyarakat Indonesia, maka pengalaman secara kontektual ini ketika ditransmisikan dalam bentuk kerangka kajian ilmu membutuhkan pemikiran yang matang sehingg dapat dengan mudah mengimplementasikannya. Menurut hemat penulis jenjang pendidikan menengah dipandang sebagai langkah yang tepat untuk memulai pengajaran ekonomi pancasila dengan beberapa alasan pertama jenjang pendidikan menengah adalah jembatan yang akan mengahantarkan peserta menuju kehidupan perkuliahan dimana peserta didik sudah mulai dididik dan diarahkan kepada tingkatan berpikir menuju pendewasaan kedua secara khusus tawaran pelajaran ekonomi Pancasila dapat dijadikan sebagai mata pelajaran khusus atau bahagian dari kajian ekonomi yang dapat dengan menggunakan berbagai pendekatan untuk pemahaman ekonomi Pancasila secara hakikinya ketiga jenjang pendidikan menengah dicirikan dengan peserta didik yang sudah dapat diajak untuk berpikir dan menanamkan ide dasar untuk pembibitan watak dan perilakunya
Disamping itu hal yang cukup urgent juga yang harus dipikirkan oleh guru dan pengembang kurikulum di sekolah khususnya pada jenjang pendidikan menengah adalah mempersiapkan guru/staf pengajar yang berkompeten yang akan mengajar ekonomi Pancasila sehingga ia mampu menggiring pemahaman siswa untuk dapat memahami Ekonomi Pancasila secara benar disamping itu program refereshing bagi guru dan siswa untuk mengupdate informasi tentang materi ekonomi pancasila dapat saja diperkaya dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten baik dari kalangan akademisi maupun dari parktisi atau dapat juga dengan mengikuti serta mengadakan berbagai kegiatan seminar dan lokakarya serta studi observasi keberbagai tempat dan lokasi dimana disana ada berbagai aktifitas ekonomi kerakyatan yang menjadi inti dari ekonomi Pancasila
Pengembangan unsur-unsur (komponen) kurikulum ekonomi Pancasila
Komponen kurikulum ekonomi Pancasila mengikuti pendapat dari beberapa ahli kurikulum yang telah diuraikan di atas terdiri atas tujuan, isi, aktifitas dan evaluasi
Fungsi
Mengembangkan kemampuan siswa untuk berekonomi, dengan cara mengenal berbagai kenyataan dan peristiwa ekonomi, memahami konsep dan teori serta berlatih dalam memecahkan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan masyarakat.
Tujuan
Tujuan mata pelajaran ekonomi di Sekolah Mengah Atas dan Madrasah Aliyah adalah: (1) membekali siswa sejumlah konsep ekonomi yang berkembang di dunia sehingg dapat mengetahui dan mengerti peristiwa dan masalah ekonomi yang terjadi, (2) membekali siswa dengan sejumlah konsep ekonomi Pancasila serta fenomena-fenomena praktik ekonomi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari terutama yang terjadi di lingkungan setingkat individu/rumah tangga, masyarakat dan negara. (3) menumbuhkan jiwa Pancasila dalam diri siswa sehingga mampu berfikir, bersikap dan berprilaku pancasila sebagai identiatas dalam melakukan aktifitas ekonomi. (4) menumbuhkan sikap dan watak kemandirian dalam diri siswa sehingga mampu bersaing dalam lingkungan global dengan tetap mempertahankan identitas nasional sebagai bangsa Indonesia yang ber Pancasila
Ruang Lingkup
Adapun ruang lingkup pelajaran ekonomi di SMA dan MA secara rinci mencakup aspek-aspek sebagai berikut: (1) sistem Ekonomi Dunia, (2) sejarah perekonomian indonesia, (3) BUMN dan BUMS, (4) Perkoperasian, (5) Kewirausahaan, (6) pengelolaan keuangan perusahaan
Standar Kompetensi Lintas Kurikulum
Kompetensi Lintas Kurikulum merupakan kecakapan untuk belajar sepanjang hayat sebagai akumulasi kemampuan setelah seseorang mempelajari berbagai kompetensi dasar yang dirumuskan setiap mata pelajaran.
Kompetensi Lintas Kurikulum tersebut dirumuskan menjadi sembilan kompetensi sehingga siswa mampu: (1) memiliki keyakinan, mempunyai hak, menjalankan kewajiban dan berperilaku sesuai dengan agama yang dianutnya, serta menyadari bahwa setiap orang perlu saling menghargai dan merasa aman, (2) menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan, dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi, serta untuk berinteraksi dengan orang lain, (3) memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep dan teknikteknik numerik dan spasial, serta mampu mencari dan menyusun pola, struktur, dan hubungan, (4) memilih, mencari, dan menerapkan teknologi dan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber serta menilai kebermanfaatannya, (5) memahami dan menghargai dunia fisik, makhluk hidup, dan teknologi, dan menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan nilainilai untuk mengambil keputusan yang tepat, (6) memahami konteks budaya, geografi, dan sejarah, serta memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan, serta berinteraksi dan berkontribusi dalam masyarakat dan budaya global, (7) berpartisipasi dalam kegiatan kreatif di lingkungan untuk saling menghargai karya artistik, budaya, dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab, (8) menunjukkan kemampuan berpikir konsekuen, berpikir lateral,berpikir kritis, memperhitungkan peluang dan potensi, serta siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan, (9) menunjukkan motivasi dan percaya diri dalam belajar, mampu bekerja mandiri, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
Standar Kompetensi Bahan Kajian
Pertama. Kemampuan memahami fakta, konsep, dan generalisasi tentang sistem sosial dan budaya dan menerapkannya untuk: (1) mengembangkan sikap kritis dalam situasi sosial yang timbul sebagai akibat perbedaan yang ada di masyarakat, (2) menentukan sikap terhadap proses perkembangan dan perubahan sosial budaya, (3) menghargai keanekaragaman sosial budaya dalam masyarakat multikultur.
Kedua. Kemampuan memahami fakta, konsep, dan generalisasi tentang manusia, tempat, dan lingkungan dan menerapkannya untuk: (1) menganalisis proses kejadian, interaksi dan saling ketergantungan antara gejala alam dan kehidupan di muka bumi dalam dimensi ruang dan waktu, (2) terampil dalam memperoleh, mengolah, dan menyajikan informasi geografis.
Ketiga. Kemampuan memahami fakta, konsep, dan generalisasi tentang perilaku ekonomi  dan kesejahteraan dan menerapkannya untuk: (1) berperilaku yang rasional dan manusiawi dalam memanfaatkan sumber daya ekonomi, (2) menumbuhkan jiwa, sikap, dan perilaku kewirausahaan dengan semangat nasionalisme, (3) menganalisis sistem informasi keuangan lembaga-lembaga ekonomi, (4) terampil dalam praktik usaha ekonomi sendiri.
Keempat. Kemampuan memahami fakta, konsep, dan generalisasi tentang waktu, keberlanjutan dan perubahan dan menerapkannya untuk: (1) menganalisis keterkaitan antara manusia, waktu, tempat, dan kejadian, (2) merekonstruksi masa lalu, memaknai masa kini, dan memprediksi masa depan, (3) menghargai berbagai perbedaan serta keragaman sosial, kultural, agama, etnis, dan politik dalam masyarakat dari pengalaman belajar peristiwa sejarah,
Kelima. Kemampuan memahami dan menginternalisasi sistem berbangsa dan bernegara dan menerapkannya untuk: (1) mewujudkan persatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, (2) membiasakan untuk mematuhi norma, menegakkan hukum,dan menjalankan peraturan, (3) berpartisipasi dalam mewujudkan masyarakat dan pemerintahan yang demokratis, menjunjung tinggi, melaksanakan, dan menghargai HAM.
Standar Kompetensi Mata Pelajaran
Kompetensi mata pelajaran terdiri atas: (1) kemampuan memahami konsep ekonomi Pancasila serta kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi, (2) kemampuan memahami realitas ekonomi kerakyatan serta solusi dan kebijakan dalam mengatasinya. (3) kemampuan memahami perekonomian internasional, manajemen, pembangunan ekonomi, tenaga kerja, wirausaha dan model pemecahan masalah ekonomi berdasarkan Pancasila.
Kompetensi Dasar, Indikator dan Materi Pokok
Kelas
Standar  Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
Cakupan Materi
X
Kemampuan memahami konsep ekonomi Pancasila serta kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi.
Kemampuan memahami konsep, prinsip, sejarah, praktik ekonomi dunia


§ Memahami sejarah perekonomian Indonesia dan dunia dari masa ke masa.
§ Memahami sejarah pemikiran pakar-pakar ekonomi dunia dan pakar-pakar ekonomi Indonesia secara seimbang.
§ Memahami konsep pasar yang mempertemukan permintaan dan penawaran.
§ Menganalisis kegiatan ekonomi produksi, distribusi dan konsumsi, dan pola hubungan antara pelaku-pelaku ekonomi.
§ Memahami dan melaksanakan pendekatan deduktif dan induktif dalam proses belajar ekonomi.
§ Menganalisis peranan pemerintah dalam mewujudkan sistem ekonomi yang efisien dan adil.
Sejarah perekonomian, sejarah pemikiran ekonomi, konsep dasar permintaan dan penawaran, kegiatan ekonomi,pendekatan induktif dan deduktif dalam ekonomi, konsep ekonomi pancasila
XI
Kemampuan memahami realiitas ekonomi kerakyatan serta solusi dan kebijakan dalam mengatasinya
1.    Kemampuan memahami konsep, prinsip, sejarah, praktik ekonomi Pancasila
2.   Kemampuan memahami pendapatan nasional dan sistem keuangan negara
§ Memahami fakta, sumber, dan cara-cara mengatasi kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran.
§ Menganalisis peran dan kekuatan ekonomi rakyat dan koperasi dalam perekonomian nasional.
§ Memahami peranan modal dalam perekonomian rakyat, peran sistem perbankan dan lembaga keuangan mikro.
§ Memahami metode perhitungan pendapatan nasional.
§ Memahami sistem keuangan negara, perpajakan, dan sistem anggaran (APBN/APBD).
Kemiskinan, pengangguran, UKM dan koperasi, bank dan lembaga keuangan, pendapatan nasional, APBN dan APBD
XII
Kemampuan memahami perekonomian internasional, , manajemen, pembangunan ekonomi, tenaga kerja, wirausaha dan model pemecahan masalah ekonomi berdasarkan Pancasila.
1.           
1.    Kemampuan memahami konsep pembangunan  dan kerjasama internasional
2.   Kemampuan memahami konsep wirausaha dan kiat-kiat melakukannya
3.   kemampuan memahami konsep ekonomi Pancasila diantara sistem ekonomi yang ada
§ Memahami pengertian pembangunan nasional dan pembangunan ekonomi.
§ Menganalisis perdagangan dan kerjasama internasional.
§ Menganalisis konsep, tujuan, manfaat, dan dampak globalisasi terhadap ekonomi Indonesia.
§ Memahami peran dan prinsip-prinsip kewiraswastaan (kewirausahaan) dalam pembangunan ekonomi. deduktif dan induktif dalam proses belajar ekonomi.
§ Memahami konsep sistem Ekonomi Pancasila dan sistem-sistem ekonomi lain seperti kapitalisme dan sosialisme.
§ Menganalisis peranan pemerintah dalam mewujudkan sistem ekonomi yang efisien dan adil.
Pembangunan, kerjasama internasional, globalisasi, wirausaha,ekonomi pancasila
Aktifitas Belajar
Untuk mendukung tercapainya tujuan yang telah dirumuskan dalam kurikulum ekonomi Pancasila maka aktifitas pembelajaran yang dipakai hendaknya dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan yang empiris artinya dengan mengundang keterlibatan siswwa secara penuh untuk dapat terlibat dalam proses pembelajaran, disamping kegiatan pembelajaran yang bersifat tatap muka, kegiatan lapangan dalam bentuk studi observasi terutama untuk materi-materi yang sangat aplikatif akan menjadi lebih penting untuk dilakukan sehingga diharapkan siswa tidak hanya paham dari sisi materi secara keseluruhan akan tetapi hendaknya juga terbentuk pola pikir (mind set) yang sesuai dengan konsep ekonomi Pancasila itu. Disamping itu model pembelajaran lain yang bisa dipergunakan apabila mengikuti pendapat Richard Arends (2008) yaitu pertama model pengajaran interaktif yang berpusat pada guru, terdiri atas (1) presentasi dan penjelasan (2) pengajaran langsung (3) pengajaran konsep kedua model pengajaran interaktif yang berpusat pada siswa, terdiri atas (1) coperative learning (2) problem based learning (3) diskusi kelas (4) kombinasi berbagai model dan mendiferensiasikan pengajaran.
Disamping model pembelajaran lainnya juga yang dapat dipakai ssuai dengan pendapat Print (1989) adalah (a) strategi ekspostori yaitu sebuah strategi yang memperlihatkan arus informasi berlangsung dari sumber belajar kepada siswa, (b) strategi interaktif  yaitu strategi yang menghendaki adanya pertukaran antara sumber belajar dengan siswa, (c) strategi small group teaching yaitu strategi yang menitikberatkan pada partisipasi kelompok, (d) strategi inquiry teaching yaitu strategi yang melibatkan siswa dalam pemecahan masalah, (e) strategi individualisation yaitu strategi dengan melihat kemampuan siswa dalam menyelsaikan tugas yang disesuaikan dengan tingkat kemampuannya, (f) strategi models of reality yaitu strategi yang menyertakan siswa dalam replikasi pada dunia nyata, (g)  Strategi model Reality yaitu strategi yang menyertakan siswa, institusi diluar pendidikan dan sejumlah pengalaman belajar
Evaluasi Belajar
Pendekatan evaluasi hendaknya dengan memadukan antara pendekatan proses dan pendekatan hasil. Dua pendekatan ini sangat direkomendasikan agar dapat diktahui secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan pencapaian kompetensi yang telah diraih oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Evaluasi dengan pendekatan proses berarti melakukan pengamatan secara mendetil untuk mendapatkan informasi yang autentik terhadap pembentukan sikap dan perilaku siswa dalam memahami konsep ekonomi Pancasila sedangkan evaluasi dengan pendekatan hasil dapat dilakukan dengan mengadakan berbagai tes baik lisan maupun tertulis yang disesuaikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah durumuskan
Simpulan
Kurikulum Ekonomi Pancasila adalah upaya konkrit yang dilakukan untuk menghadirkan sebuah pemahaman yang komplek sekaligus untuk membentuk minset siswa akan dasar falsafah negara yang dijadikan sebagai sebuah sistem ekonomi alternatif antara dua sistem yang ada saat ini.
Pentingnya pengembangan kurikulum ekonomi Pancasila diberikan kepada peserta didik disamping untuk melestarikan warisan budaya dan juga  sebagai praktik ekonomi yang berwawasan kerakyatan yang sangat dekat dengan aktifitas perekonomian rakyat sehingga mampu menjembatani antara idealitas teori yang dipelajari dengan realitas yang ada
Pengembangan kurikulum ekonomi Pancasila meliputi tujuan, isi, aktifitas dan evaluasi yang dilaksanakan secara terpadu dan sistematis sehingga dapat memenuhi tunutan keilmuan secara teoritisi dan kebutuhan nasional secara idelogis politis
Pengembangan kurikulum ekonomi Pancasila membutuhkan segenap kreatifitas terutama oleh guru sebagai pengembang kurikulum sehingga pendekatan yang dipakai mampu memenuhi aspek kogniti, afektif dan psikomotor peserta didik
Pengembangan kurikulum Ekonomi Pancasila dapat dilakukan dengan menciptakan sebuah mata pelajaran baru atau dengan tetap menjadi bahagian dari mata pelajaran ekonomi namun diisi dengan muatan ekonomi Pancasila secara proporsional






DAFTAR PUSTAKA

Buku
Arends, Richard. 2007. “learning to Teach”, Avenue of the Americas New York, NY 10020: McGraw-Hill Companies, Inc 1221.
Brady, Laurie.(1992). Curriculum Development (Thirfd Edition). Australia. Prentice Hall
Hamalik, Oemar.(1989). Evaluasi Kurikulum. Bandung. Remaja Rosdakarya
Hamalik, Oemar. (2006). Manajemen Implementasi Kurikulum: Bagi Pengembang, Pengelola dan Pengawas. Bandung:  SPS UPI.
Ibrahim (1988). Inovasi Pendidikan. Depdikbud Dikti P2LPTK.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1985).Jakarta. Balai Pustaka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Kelly, A.V (2004). The Curriculum Theory and Practice Fifth Edition.London. Sage Publications
Madjid, Abdul. Swasno, Sri Edi (Eds) (1988). Wawasan Ekonomi Pancasila.Jakarta. UI Press
Mubyarto (1987). Ekonomi Pancasila Gagasan dan Kemungkinan.Jakarta. LP3ES
Mulyasa, Enco.(2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sebuah Panduan Praktis. Bandung. Remaja Rosdakarya
Nasution,R (1993), Asas-asas Kurikulum, Bandung : Jamars
-----------. (2003), Kurikulum dan Pengajaran, Jakarta : Bina Aksar
Print, Murray. (1993). Curriculum Development and Design. Australia. Allen & Unwin
Rogers, Everett M. (1983). Diffusion of Innovations. The Free Press. New York
Sanjaya,Wina. (2009). “Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran”, Jakarta. Kencana Prenada Media Grup
-----------. (2008). “Kurikulum dan Pembelajaran”, Jakarta. Kencana Prenada Media Grup
-----------. (2007). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung. Sekolah Pascasarjana UPI
Siraj, Saedah. (2008). Kurikulum Masa Depan. Kuala Lumpur. Universiti Malaya
Sukmadinata, Nana Syaodih.(2004). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung. Remaja Rosdakarya.
Tyler, R.W.(1949). Basic Principles of Curriculum and Instructions. Univ. Of Chicago Press.
Zais, Robert S. (1976).Curriculum Principles and Foundation. London. Harper and Row

Internet
Chaeruman,Uwes.A.(2008).Difusi Inovasi Just Theory [Ofline] http://www.teknologipendidikan.net/difusi-inovasi-just-theory.[19 September 2008]

Hutomo,MardiYatmo.(2008). Ekonomi Kerakyatan [Ofline] Tersedia: www.bappenas.go.id/index.php?module=Filemanager&func=download&pathext=ContentExpress/&view=401/...doc[23 Oktober 2008]

Irawan, Doni . (2008). Pelaksanaan Sistem Ekonomi Pancasila di Tengah Praktek Liberalisasi Ekonomi di Indonesia [Ofline] Tersedia: images.zanikhan.multiply.com/attachment/0/SBdKgoKCtcAAFtBbY81/Ekonomi.doc?nmid=94632695 – [23 Oktober 2008]

Mubyarto.(2002). Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi [Ofline] Tersedia: http://www.ekonomirakyat.org/index6.php  [1 september 2008]
Mubyarto.(2003). Teori Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi dalam Ekonomi Pancasila [Ofline] Tersedia: http://www.ekonomirakyat.org/index6.php  [1 september 2008]
Mubyarto.(2002). Membangkitkan Ekonomi Kerakyatan melalui Gerakan Koperasi: Peran Perguruan Tinggi [Ofline] Tersedia: http://www.ekonomirakyat.org/index6.php
[1 september 2008]
Mubyarto.(2003). Dari Ilmu Berkompetisi ke Ilmu Berkoperasi [Ofline] Tersedia: http://www.ekonomirakyat.org/index6.php   [1 september 2008]
Mubyarto.(2007).Dengan Ekonomi Pancasila Menyiasati Globalisasi [Ofline] Tersedia: http://persinggahan.wordpress.com/2007/03/20/dengan-ekonomi-pancasila-menyiasati-globalisasi/ [12 september 2008]
Mubyarto dan Santoso (2007).Pendidikan Ekonomi Alternatif  [Ofline] Tersedia: http://awansantosa.blogspot.com/2005/05/pendidikan-ekonomi-alternatif.html 
[23 Oktober 2008]
Nugroho.(2008). Bisakah Ekonomi Pancasila Diwujudkan? (Renungan Mengiringi Kepergian Prof Mubyarto) [Ofline]. Tersedia http://www.mail-archive.com/ekonomi-nasional@yahoogroups.com/msg02346.html  [12 September 2008]
Raharjo, dawam (2004). Ekonomi Pancasila dalam Tinjauan Filsafat Ilmu[Ofline] Tersedia http://www.mail-archive.com/ekonomi-nasional@yahoogroups.com/msg02346.html  [12 September 2008]
Santoso, Awan.(2008). Ekonomi Pancasila Maju Terus [Ofline]. Tersedia http://awansantosa.blogspot.com/2005/05/ekonomi-pancasila-maju-terus.html
[12 September 2008]
Swasono, Sri Edi (2008). Kemandirian Ekonomi:Menghapus Sistem Ekonomi Subordinasi Membangun Ekonomi Rakyat. [Ofline]. Tersedia www.bappenas.go.id/.../&view=409/Sri-Edi%20Swasono.doc  [3 September 2008]
Swasono, Sri Edi (2003). Kompetensi dan Integrasi Sarjana Ekonomi. [Ofline]. Tersedia http://www.ekonomirakyat.org/index6.php   [1 September 2008]









































































[1] Disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi UNP 6 Oktober 2012
[2] Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Padang

Tidak ada komentar: