Ucapan selamat kita berikan kepada pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih atas kepercayaan yang
diberikan oleh masyarakat Sumatera
Barat dalam PILKADA nantik, kemenangan ini hendaknya dimaknai sebagai kemenangan demokrasi
masyarakat Sumbar, kemenangan ini adalah kemenangan kita semua yang berarti juga sebagai
kemenangan masyarakat secara keseluruhan, ketika kita sepakat dengan intreprestasi di atas maka tekad
untuk membangun Sumatera
Barat yang lebih baik hendaknya menjadi tugas kita semua dengan optimalisasi segenap potensi yang
ada baik alam maupun manusianya. Kaum adat, cadiak pandai, alim ulama, pemerintah,
masyarakat di kampuang dan di parantauan harus bahu membahu dengan semangat tinggi untuk membangun nagari yang
kita cintai ini, begitullah pituah
adat kita mangajarkannya.
Setumpuk masalah
telah membentuk antrian panjang untuk segera diselesaikan, pendidikan, hukum, sosial, budaya, pariwisata,
agama, ekonomi, masing-masingnya memiliki permasalahan yang tidak
sederhana, berbicara "masalah " adalah bukan menjadi barang
baru karena masalah itu telah hadir jauh sebelum kita hadir, masalah adalah merupakan sebuah fitrah kemanusian untuk
ada dari dulu hingga sekarang, daerah maju
dan terisolir, negara maju dan miskin, pemerintah maupun rakyat tidak ada yang tidak
memiliki masalah namun kalau kita mengatakan tidak ada masalah maka menurut hemat saya itulah masalahnya, masalah tidak hanya
untuk diperdebatkan, tidak hanya untuk
dibicarakan dalam sebuah diskusi di hotel berbintang dengan mendatangkan pakar,
tidak hanya untuk di seminarkan saja,
akan tetapi untuk diselesaikan dengan formulasi yang tepat.
Menatap pendidikan Sumatera
Barat belakangan adalah sangat menyedihkan. Fenomena yang kita lihat adalah kriminalitas, narkoba, pergaulan bebas, aborsi, dikalangan pelajar
dan mahasiswa seakan tak percaya akan tetapi sudah tidak dapat kita tutupi lagi
keadaaan yang demikian, Sumatera
Barat di citrakan sebagai daerah di Indonesia yang banyak menghasilkan tokohtokoh besar, pemikir, politikus, ekonomi,
pedagang, ulama, pencitraan ini bukan hanya sekedar basa-basi untuk sekedar prestise bagi kita akan tetapi memang begitulah kenyataannya, siapa yang tidak kenal dengan Natsir, bagaimana sepak
terjangnya Hamka, kesederhanaan Hatta,
diplomasinya Adam Malik dan sederetan tokoh lain yang bermunculan dari nagari awak, pun hari ini kita
masih memiliki Deliah Noor, Irwan Prayitno, Azzumardi Azra, Achamd
Syafii Maarif, dan mungkin masih banyak lagi yang lain, industri otak begitulah daerah kita dihargai, tidak selamanya kita
terlena dengan sanjungan ini dan
memang kita tidak boleh terlena dengan itu semua, kita terpesona dengan pujian itu tanpa kita sadari ternyata banyak diantara mereka yang telah tua usianya, bahkan telah ada yang pergi menemui
rabbnya, yang tinggal adalah kita yang kerjanya
hanya mengatakan "kita banyak
banyak menghasilkan tokoh, industri otak, "dalam berbagai kesempatan itu itu juga yang kita
sebut sementara di sisi lain anak kita mulai
lalai di sekolahnya, anak-anak kita banyak yang drop out dari sekolahnya, perkelahian pelajar dan mahasiswa, krimilitas meningkat, aborsi, sek
bebas, demoralitas, narkoba. Itulah
kenyataan yang kita temui hari ini, generasi muda (pelajar dan mahasiswa) adalah, menjadi subjek (pelaku),
tidakkah disadari bahwa mereka adalah harapan
kita untuk masa depan, mereka adalah anak kita yang lahir di nagari minang, dapatkah kita memprediksikan minang (Sumbar) 20
tahun yang akan datang? tentunya kenyataan
ini tidak bisa kita biarkan saja berlangsung tanpa adanya upaya yang tepat untuk segera keluar dari cengkaraman demorilitas
itu, adalah tidak bijak kalau pekerjaan menyalahkan itu, baik di alamatkan kepada institusi pendidikannya,
pemerintahan daerah atau nasional, depertemen pendidikan nasional, atau siswa/i
itu sendiri yang kita maki dengan
sumpah serapah kita, tentunya tidak akan berguna dan akan semakin memperkeruh keadaan dan semakin gelap, tindakan
yang bijak yang harus diupayakan adalah
pertama secara internal kita semua melakukan patut diri
(koreksi) terhadap berbagai realita
itu dan mencoba bertanya pada diri sendiri dan mengusahakan untuk mencari jawaban sendiri atas pertanyaan yang
muncul itu, kedua adalah secara eksternal adalah melakukan kolaborasi yang utuh dan terpadu
dengan memadukan berbagai ide yang terlahir yang
pada akhirnya menjadi sebuah kebijakan yang
strategis untuk dijalankan
sebagai langkah maju bersama.
Sebuah
Tawaran Konsepsi
Sebagai seorang pendidik,
hati kecil saya juga turut terpanggil untuk memberikan sumbangan ide yang untuk dikunyah-kunyah oleh gubernur sebagai pertimbangan kedepan dalam menata pendidikan Sumbara
Barat 2020-2024. Pertama.
Pengembangan pendidikan hendaknya berorientasi pada
aktualisasi sumberdaya manusia, alam Sumatera Barat memberikan kontribusi yang tidak profit
dalam memacu PAD dibandingkan dengan potensi manusianya, potensi alam kita dibandingkan dengan daerah
lainnya di Indonesia kalah
jauh sehingga tidak banyak yang dapat dijadikan sebagai komoditi unggulan dan dijadikan sebagai
primadona , maka
potensi sumberdaya manusialah yang harus
kita garap secara maksimal, sebagi sebuah perbandingan adalah negara Jepang, negara ini agaknya dapat memberikan sebuah
ketauladanan bagi kita, mereka sangat menyadari
keterbatasan alam yang mereka miliki oleh karena itu langkah yang mereka lakukan untuk menyiasati keterbatasan itu adalah human
resourches investmen ( investasi sumberdaya manusia ), mereka
mengirim ratusan pelajar mereka untuk sekolah di luar negeri untuk kemudian mengabdikan ilmunnya membangun negeri.
Sangat disadari bahwa investasi
sumberdaya manusia adalah investasi jangka panjang yang mempunyai nilai balik investasi dua puluh tahun
atau lebih, sehingga bagi investor ketika melirik investasi ini tentunya akan mengernyitkan dahi dan berujar "ah tidak
profit" karena terlalu lama
dalam masa penantian untuk menghasilkan sejumlah keuntungan, anggapan di atas tentunya akan lahir dari mereka
yang memiliki pandangan sempit dan berpikir individualis yang hanya
mengejar keuntungan sesaat dan tentunya mereka adalah kelompok yang tidak
sabar, Jepang ternyata memiliki stok
kesabaran yang cukup sehingga masa penantian 20-30 tahun itu telah mereka petik
hari ini, Jepang sekarang telah
menjelma menjadi negara maju dan mampu bersaing dengan negara maju lainnya. Kedua Reaktualisasi budaya, Irwan
Prayitno mempopulerkan istilah ini dalam beberapa kesempatan, menurutnya potensi minang yang sempat jaya perlu dikembalikan
atau diaktualisasikan kembali
(reaktualisasi), sejarah keemasan nagari ini tidak boleh kita lupakan dengan kehadiran tokoh dan pemikirannya,
sebagai pewaris negari kita tidak menginginkan
mereka kecewa dengan apa yang kita lakukan hari ini, Soekarno mengatakan "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya,"
dalam kontek ini tentunya kita
akan mengatakan bahwa menghargai ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, dengan berupaya menjaga
warisan mereka adalah bentuk penghargaan
itu, mereka menciptakan kita meneruskan dan mempertahankannya sebagai identitas kita dalam tatanan global, ketika kita
ingin bersikap idealis sebagai anak nagari yang berbakti kita juga melihat sebuah kenyataan yang memilukan betapa
nilai-nilai adat dan tatanan
kehidupan yang telah dibentuk sejak dulunya secara perlahan mulai tidak digubris
oleh beberapa generasi muda hari ini, identitas diri sebagai urang awak mulai mengalami pendistorsian seiring dengan
perkembangan zaman yang menuntut perubahan secara radikal, rasanya semua kita sepakat bahwa globalisasi,
industrialisasi tidak bisa di hadang
bak kata orang seperti mengahadang arus sungai, akan tetapi arus ini dapat dengan mudah untuk kita alirkan agar tidak
menerjang tempat berteduh kita, globalisasi hendaknya kita atur menurut kemauan kita, sehingga kitalah yang
mengaturnya untuk kemudian dibawa
sesuai dengan tatanan nilai luhur budaya kita, sehingga kehadiran mereka ( globalisasi,
industrialisasi ) ditengah budaya kita
adalah sebagai pelengkap khasanah
budaya dan tentunya semakin paripurnalah budaya minang. Ketiga Pendidikan tiga dimensi yang
sinergis, pendidikan harus mampu mengisi tiga dimensi dalam diri manusia meliputi dimensi intelektual (akal) dimensi
emosional (perasaan) dan dimensi hati (ruhiah) dan pemenuhannya harus dilakukan
dengan bersinergis dan tidak dengan parsial,
pemisahan yang dilakukan dengan memperioritaskan yang satu dan mengabaikan dimensi yang lain akan melahirkan generasi yang
tidak tawazun (seimbang)
dalam menatap hidupnya, pendidikan yang mengutamakan dimensi akal saja akan
melahirkan manusia yang hanya mengedepankan
aspek akal (aqli) dalam menyelesaikan persoalan, kalau mentok dan akal tidak mampu menjawab pertanyaan apa dan bagaimana,
kecendrungannya adalah mencari jalan
pintas untuk mengatasi kebuntuan berpikirnya, pendidikan yang hanya mengisis dimensi akal dan emosional saja akan
menjadi manusia yang cerdik lagi culas
karena mereka berbuat hanya mendasari pada kekuatan akal dan dorongan emosional yang tidak memiliki muara
ketuhanan dan mungkin tidak menganggap
adanya pengawasan Ilahi dengan perbuatan yang dilakukan, begitulah agaknya yang dilakukan oleh Hitler, Mussolini,
Stallin, Lenin.
Sebuah kisah tragis pernah disampakan oleh almarhum Natsir ketika
belia berpidato tahun 1967 di gedung Dewan Dakwah Islam (DDI) yang didirikannya, yaitu
seorang ahli fisika tekemuka di dunia Prof. Paul Ehrenfest namanya yang telah mencapai
kematangannya dalam ilmunya, ia adalah seorang intelektual dalam arti yang
sesungguhnya, dia juga seorang profesor yang telah sampai
kepada peringkat keilmuan yang mengupas, merentas, dan menemukan rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang masih tersembunyi dan
menjadikan hasil penyelidikan dan
penelitiannya untuk dihidangkan kepada dunia, tetapi dibalik kejayaan itu telah
terjadi sebuah peristiwa tragis pada
dirinya, Prof. Paul Ehrenfest bunuh diri setelah sebelumnya membunuh anak satu-satunya yang amat ia sayangi, sebuah surat
wasiat yang di tujukan kepada
temannya Prof. Kohnstam yang la tulis sebelum mengakhiri hidupnya berisi :
mir
fehlt das gott vertrauen. Religiun ist noetng. Aber wem sie nicht moeglici ist. der kann eben zugrunde gehan ( yang tak ada pada saya adalah kepercayaan kepada tuhan agama adalah perlu tapi
barang siapa yang tak mampu memiliki agama ia mungkin binasa karena itu ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar