Rabu, 20 Mei 2020

Pesan untuk gubernur sumbar terpilih nantik


RENCANA PENDIDIKAN SUMATERA BARAT 
Rino


Ucapan selamat kita berikan kepada pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih atas kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat Sumatera Barat dalam PILKADA nantik, kemenangan ini hendaknya dimaknai sebagai kemenangan demokrasi masyarakat Sumbar, kemenangan ini adalah kemenangan kita semua yang berarti juga sebagai kemenangan masyarakat secara keseluruhan, ketika kita sepakat dengan intreprestasi di atas maka tekad untuk membangun Sumatera Barat yang lebih baik hendaknya menjadi tugas kita semua dengan optimalisasi segenap potensi yang ada baik alam maupun manusianya. Kaum adat, cadiak pandai, alim ulama, pemerintah, masyarakat di kampuang dan di parantauan harus bahu membahu dengan semangat tinggi untuk membangun nagari yang kita cintai ini, begitullah pituah adat kita mangajarkannya.
Setumpuk masalah telah membentuk antrian panjang untuk segera diselesaikan, pendidikan, hukum, sosial, budaya, pariwisata, agama, ekonomi, masing-masingnya memiliki permasalahan yang tidak sederhana, berbicara "masalah " adalah bukan menjadi barang baru karena masalah itu telah hadir jauh sebelum kita hadir, masalah adalah merupakan sebuah fitrah kemanusian untuk ada dari dulu hingga sekarang, daerah maju dan terisolir, negara maju dan miskin, pemerintah maupun rakyat tidak ada yang tidak memiliki masalah namun kalau kita mengatakan tidak ada masalah maka menurut hemat saya itulah masalahnya, masalah tidak hanya untuk diperdebatkan, tidak hanya untuk dibicarakan dalam sebuah diskusi di hotel berbintang dengan mendatangkan pakar, tidak hanya untuk di seminarkan saja, akan tetapi untuk diselesaikan dengan formulasi yang tepat.
Menatap pendidikan Sumatera Barat belakangan adalah sangat menyedihkan. Fenomena  yang kita lihat adalah kriminalitas, narkoba, pergaulan bebas, aborsi, dikalangan pelajar dan mahasiswa seakan tak percaya akan tetapi sudah tidak dapat kita tutupi lagi keadaaan yang demikian, Sumatera Barat di citrakan sebagai daerah di Indonesia yang banyak menghasilkan tokoh­tokoh besar, pemikir, politikus, ekonomi, pedagang, ulama, pencitraan ini bukan hanya sekedar basa-basi untuk sekedar prestise bagi kita akan tetapi memang begitulah kenyataannya, siapa yang tidak kenal dengan Natsir, bagaimana sepak terjangnya Hamka, kesederhanaan Hatta, diplomasinya Adam Malik dan sederetan tokoh lain yang bermunculan dari nagari awak, pun hari ini kita masih memiliki Deliah Noor, Irwan Prayitno, Azzumardi Azra, Achamd Syafii Maarif, dan mungkin masih banyak lagi yang lain, industri otak begitulah daerah kita dihargai, tidak selamanya kita terlena dengan sanjungan ini dan memang kita tidak boleh terlena dengan itu semua, kita terpesona dengan pujian itu tanpa kita sadari ternyata banyak diantara mereka yang telah tua usianya, bahkan telah ada yang pergi menemui rabbnya, yang tinggal adalah kita yang kerjanya hanya mengatakan "kita banyak banyak menghasilkan tokoh, industri otak, "dalam berbagai kesempatan itu itu juga yang kita sebut sementara di sisi lain anak kita mulai lalai di sekolahnya, anak-anak kita banyak yang drop out dari sekolahnya, perkelahian pelajar dan mahasiswa, krimilitas meningkat, aborsi, sek bebas, demoralitas, narkoba. Itulah kenyataan yang kita temui hari ini, generasi muda (pelajar dan mahasiswa) adalah, menjadi subjek (pelaku), tidakkah disadari bahwa mereka adalah harapan kita untuk masa depan, mereka adalah anak kita yang lahir di nagari minang, dapatkah kita memprediksikan minang (Sumbar) 20 tahun yang akan datang? tentunya kenyataan ini tidak bisa kita biarkan saja berlangsung tanpa adanya upaya yang tepat untuk segera keluar dari cengkaraman demorilitas itu, adalah tidak bijak kalau pekerjaan menyalahkan itu, baik di alamatkan kepada institusi pendidikannya, pemerintahan daerah atau nasional, depertemen pendidikan nasional, atau siswa/i itu sendiri yang kita maki dengan sumpah serapah kita, tentunya tidak akan berguna dan akan semakin memperkeruh keadaan dan semakin gelap, tindakan yang bijak yang harus diupayakan adalah pertama secara internal kita semua melakukan patut diri (koreksi) terhadap berbagai realita itu dan mencoba bertanya pada diri sendiri dan mengusahakan untuk mencari jawaban sendiri atas pertanyaan yang muncul itu, kedua adalah secara eksternal adalah melakukan kolaborasi yang utuh dan terpadu dengan memadukan berbagai ide yang terlahir yang pada akhirnya menjadi sebuah kebijakan yang strategis untuk dijalankan sebagai langkah maju bersama.
Sebuah Tawaran Konsepsi
Sebagai seorang pendidik, hati kecil saya juga turut terpanggil untuk memberikan sumbangan ide yang untuk dikunyah-kunyah oleh gubernur sebagai pertimbangan kedepan dalam menata pendidikan Sumbara Barat 2020-2024. Pertama. Pengembangan pendidikan hendaknya berorientasi pada aktualisasi sumberdaya manusia, alam Sumatera Barat memberikan kontribusi yang tidak profit dalam memacu PAD dibandingkan dengan potensi manusianya, potensi alam kita dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia kalah jauh sehingga tidak banyak yang dapat dijadikan sebagai komoditi unggulan dan dijadikan sebagai primadona , maka potensi sumberdaya manusialah yang harus kita garap secara maksimal, sebagi sebuah perbandingan adalah negara Jepang, negara ini agaknya dapat memberikan sebuah ketauladanan bagi kita, mereka sangat menyadari keterbatasan alam yang mereka miliki oleh karena itu langkah yang mereka lakukan untuk menyiasati keterbatasan itu adalah human resourches investmen ( investasi sumberdaya manusia ), mereka mengirim ratusan pelajar mereka untuk sekolah di luar negeri untuk kemudian mengabdikan ilmunnya membangun negeri. Sangat disadari bahwa investasi sumberdaya manusia adalah investasi jangka panjang yang mempunyai nilai balik investasi dua puluh tahun atau lebih, sehingga bagi investor ketika melirik investasi ini tentunya akan mengernyitkan dahi dan berujar "ah tidak profit" karena terlalu lama dalam masa penantian untuk menghasilkan sejumlah keuntungan, anggapan di atas tentunya akan lahir dari mereka yang memiliki pandangan sempit dan berpikir individualis yang hanya mengejar keuntungan sesaat dan tentunya mereka adalah kelompok yang tidak sabar, Jepang ternyata memiliki stok kesabaran yang cukup sehingga masa penantian 20-30 tahun itu telah mereka petik hari ini, Jepang sekarang telah menjelma menjadi negara maju dan mampu bersaing dengan negara maju lainnya. Kedua Reaktualisasi budaya, Irwan Prayitno mempopulerkan istilah ini dalam beberapa kesempatan, menurutnya potensi minang yang sempat jaya perlu dikembalikan atau diaktualisasikan kembali (reaktualisasi), sejarah keemasan nagari ini tidak boleh kita lupakan dengan kehadiran tokoh dan pemikirannya, sebagai pewaris negari kita tidak menginginkan mereka kecewa dengan apa yang kita lakukan hari ini, Soekarno mengatakan "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya," dalam kontek ini tentunya kita akan mengatakan bahwa menghargai ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, dengan berupaya menjaga warisan mereka adalah bentuk penghargaan itu, mereka menciptakan kita meneruskan dan mempertahankannya sebagai identitas kita dalam tatanan global, ketika kita ingin bersikap idealis sebagai anak nagari yang berbakti kita juga melihat sebuah kenyataan yang memilukan betapa nilai-nilai adat dan tatanan kehidupan yang telah dibentuk sejak dulunya secara perlahan mulai tidak digubris oleh beberapa generasi muda hari ini, identitas diri sebagai urang awak mulai mengalami pendistorsian seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut perubahan secara radikal, rasanya semua kita sepakat bahwa globalisasi, industrialisasi tidak bisa di hadang bak kata orang seperti mengahadang arus sungai, akan tetapi arus ini dapat dengan mudah untuk kita alirkan agar tidak menerjang tempat berteduh kita, globalisasi hendaknya kita atur menurut kemauan kita, sehingga kitalah yang mengaturnya untuk kemudian dibawa sesuai dengan tatanan nilai luhur budaya kita, sehingga kehadiran mereka ( globalisasi, industrialisasi ) ditengah budaya kita adalah sebagai pelengkap khasanah budaya dan tentunya semakin paripurnalah budaya minang. Ketiga Pendidikan tiga dimensi yang sinergis, pendidikan harus mampu mengisi tiga dimensi dalam diri manusia meliputi dimensi intelektual (akal) dimensi emosional (perasaan) dan dimensi hati (ruhiah) dan pemenuhannya harus dilakukan dengan bersinergis dan tidak dengan parsial, pemisahan yang dilakukan dengan memperioritaskan yang satu dan mengabaikan dimensi yang lain akan melahirkan generasi yang tidak tawazun (seimbang) dalam menatap hidupnya, pendidikan yang mengutamakan dimensi akal saja akan melahirkan manusia yang hanya mengedepankan aspek akal (aqli) dalam menyelesaikan persoalan, kalau mentok dan akal tidak mampu menjawab pertanyaan apa dan bagaimana, kecendrungannya adalah mencari jalan pintas untuk mengatasi kebuntuan berpikirnya, pendidikan yang hanya mengisis dimensi akal dan emosional saja akan menjadi manusia yang cerdik lagi culas karena mereka berbuat hanya mendasari pada kekuatan akal dan dorongan emosional yang tidak memiliki muara ketuhanan dan mungkin tidak menganggap adanya pengawasan Ilahi dengan perbuatan yang dilakukan, begitulah agaknya yang dilakukan oleh Hitler, Mussolini, Stallin, Lenin.
Sebuah kisah tragis pernah disampakan oleh almarhum Natsir ketika belia berpidato tahun 1967 di gedung Dewan Dakwah Islam (DDI) yang didirikannya, yaitu seorang ahli fisika tekemuka di dunia Prof. Paul Ehrenfest namanya yang telah mencapai kematangannya dalam ilmunya, ia adalah seorang intelektual dalam arti yang sesungguhnya, dia juga seorang profesor yang telah sampai kepada peringkat keilmuan yang mengupas, merentas, dan menemukan rahasia-­rahasia ilmu pengetahuan yang masih tersembunyi dan menjadikan hasil penyelidikan dan penelitiannya untuk dihidangkan kepada dunia, tetapi dibalik kejayaan itu telah terjadi sebuah peristiwa tragis pada dirinya, Prof. Paul Ehrenfest bunuh diri setelah sebelumnya membunuh anak satu-satunya yang amat ia sayangi, sebuah surat wasiat yang di tujukan kepada temannya Prof. Kohnstam yang la tulis sebelum mengakhiri hidupnya berisi :

mir fehlt das gott vertrauen. Religiun ist noetng. Aber wem sie nicht moeglici ist. der kann eben zugrunde gehan ( yang tak ada pada saya adalah kepercayaan kepada tuhan agama adalah perlu tapi barang siapa yang tak mampu memiliki agama ia mungkin binasa karena itu ).

Pendidikan yang tidak mengisi dimensi spritual melahirkan manusia yang bermental bejat, dan mereka akan melakukan segala macam cara agar tujuannya tercapai, pendidikan yang sempurna adalah yang memperhatikan dimensi akal, emosional dan spritual dan dilaksanakan secara seimbang dan berkesinambungan akan mencetak manusia unggul dengan akal yang cerdas, mental yang tangguh serta keyakinan ketuhanan yang teruji.

Tidak ada komentar: